Kamis, 19 September 2019

Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia Melalui Konsep Pendidikan dan Pelatihan Soft Skill di Era Revolusi Industri 4.0.

Assalamu'alaikum wr. wb.


Bagaimana kabarnya¿¿
Semoga semuanya selalu d berikan kesehatan jasmani maupun rohani nyaa ya dan selalu ada dalam lindungan Allah swt.
Dan yang hati nya sedang kurang baik semoga lekas membaik.Aamiin Allahumma Aaminn.Hasil gambar untuk gambar revolusi industri 4.0




Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia Melalui Konsep Pendidikan dan Pelatihan Soft Skill di Era Revolusi Industri 4.0.

Suatu Suatuk, pekerjaan, bahkan manusia sekalipun dinilai dari kualitasnya dan menjadikan nilai jual yang amat tinggi ketika sesuatu itu dinilai kualitasnya sangat baik.  Kualitas atau mutu adalah suatu pengukuran atau penilaian baik atau buruknya suatu hal tersebut.
Kualitas ini sangat penting untuk segala bidang baik dari suatu lembaga ,tenaga kerja dll. Di zaman sekarang kualitas sangat di utamakan apalagi ketika seseorang yang sudah melakukan pendidikan sampai ke perguruan tinggi dia pasti akan mencari pekerjaan, maka dari itu kulitas kinerja benar-benar sangat di butuhkan , dimana kita juga harus mempunyai skill atau kemapuan yang dapat membuat kita untuk masuk pada suatu lembaga tersebut. Karena tidak mudah untuk bisa masuk pada suatu lembaga atau perusahaan jika kita tidak mempunyai skill yang kompeten. Maka dari itu kualitas sumber daya manusia khususnya masyarakat Indonesia harus lebih baik lagi. Mengingat dari penelitan World Bank (Bank Dunia) mencatat, indeks sumber daya manusia (Human Capital Index/HCI) Indonesia sebesar 0,53 atau peringkat ke-87 dari 157 negara. Berdasarkan laporan HCI Bank Dunia yang diluncurkan dalam Pertemuan Tahunan. Ini mengindikasikan bahwa pemerintah Indonesia harus meningkatkan kualitas SDM melalui kesehatan dan pendidikan demi daya saing ekonomi yang akan datang.
SDM terdiri dari daya fikir dan daya fisik setiap manusia. SDM pun menjadi faktor utama dalam segala aktivitas yang dilakukan. Peralatan yang canggihpun tanpa adanya SDM tidak akan berarti apa-apa. Daya fikir itu sendiri yaitu kecerdasan yang dibawa dari lahir dan merupakan modal dasar bagi manusia untuk mengembangkan potensi   yang dimilliki diri sendiri sehingga lahirlah skill (kecakapan) atau daya fisik yang diperoleh dari usaha (belajar/pendidikan, pelatihan). Adapun yang menjadi tolok ukur kecerdasannya yaitu IQ dan EQ.
Ketika diera modern ini pertumbuhan teknologi semakin pesat namun Pemerintahan Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla selama empat tahun terakhir ini identik dengan program pembangunan infrastruktur, namun disisi lain presiden jokowi dodo dalam sejumlah kesempatan juga memastikan komitmen pemerintah untuk penguatan SDM. Seperti saat pidato di hadapan Sidang Tahunan MPR pada 16 Agustus 2018 lalu, Presiden mengingatkan akan pentingnya pembangunan SDM sebagai investasi jangka panjang bagi pembangunan bangsa. Pembangunan SDM, kata Presiden Jokowi, merupakan modal terbesar dan terkuat yang harus dimiliki Indonesia. Perhatian pemerintah dalam pembangunan SDM dimulai dengan peletakan sistem pendidikan yang menguatkan karakter anak didik. Simak saja keberadaan Peraturan Presiden No 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter bagi anak didik merupakan refleksi dari komitmen negara untuk menyiapkan pembangunan jiwa bagi anak didik sekolah.
Pendidikan di bagi menjadi tiga yaitu : pendidikan formal (SD/MI, SMP/MTS, SMA/MA dan perguruan tinggi ), yang kedua yaitu pendidikan non formal ( kursus dll), yang ketiga yaitu pendidikan informal (pendidikan di dalam keluarga).
Yang akan di bahas dari ketiga pendidikan ini adalah pendidikan non formal. Pendidikan non formal adalah pendidikan di luar jalur pendidikan formal yang dapat di lakukan secara terstruktur dan berjenjang,fleksibel,berlangsung sepanjang hayat,dan tingkat kompetensi peserta didiknya dapat di setarakan dengan kompetensi pada pendidikan formal.
Pendidikan non formal mempunyai suatu perbedaan dengan pendidikan formal, UNESCO (1972) menjelaskan bahwa pendidikan non formal mempunyai keketatan dan keseragaman yang lebih longgar di banding dengan tingkat keketatan dan keseragaman pendidikan formal.pendidikan non formal memiliki bentuk dan isi program yang bervariasi,sedangkan pendidikan formal pada umumnya memiliki bentuk dan isi program yang seragam untuk setiap satuan,jenis,dan jenjang pendidikan.peserta didik ( warga yang belajar ) dalam program pendidikan non formal tidak memiliki persyaratan ketat sebagaimana persyaratan yang berlaku bagi peserta didik dari pendidikan formal.tanggung jawab dan pembiayaan pendidikan non formal dipikul oleh pihak yang berwenang beda-beda,baik pihak pemerintah,lembaga kemasyarakatan,maupun per orangan yang berminat untuk menyelenggarakan program pendidikan.di pihak lain,tanggung jawab pengelolaan program pendidikan formal pada umumnya berada pada pihak pemerintah dan lembaga yang khusus menyelenggarakan pendidikan persekolahan.dengan demikian,perbedaan antara kedua jalur pendidikan itu terdapat dalam berbagai segi ,baik sistem maupun penyelenggaraannya.
Sebanyak 57% pekerjaan saat ini akan tergerus oleh robot seiring berkembangnya revolusi industri 4.0, pemanfaaatan robot, atau artificial intelligence, atau kecerdasan buatan dalam proses produk manufaktur akan semakin lazim. Yang harus dilakukan milenial sekarang adalah menyesuaikan diri dengan perubahan.
Berdasarkan paparan laporan World Economic Forum (WEF) untuk bisa beradaptasi dengan perubahan yang dibawa oleh revolusi industri 4.0 seorang pekerja harus memiliki kemampuan yang tidak akan bisa dilakukan oleh mesin. Misalnya kemampuan untuk menyelesaikan masalah atau kreatifitas. Softskill adalah kunci, World Economic Forum merilis 10 skills yang mutlak dibutuhkan para pekerja untuk menghadapi perubahan pada 2020 dan seterusnya terutama karena adanya Revolusi Industri 4.0. skills tersebut diantaranya : Pemecahan masalah yang komplek; berfikir kritis; kreatifitas; manajemen manusia; berkoordinasi dengan orang lain; kecerdasan emosional; penilaian dan pengambilan keputusan; berorientasi servis; negosiasi; dan fleksibilitas kognitif.
Menariknya, lebih dari setengah skills tersebut adalah merupakan soft skill. Artinya, soft skill menjadi salah satu faktor paling penting untuk dimiliki sumber daya manusia di masa depan. Untuk itu, generasi milenial yang lahir pada medius (1980-1999) harus mulai mengasah soft skill karena masa depan manufaktur Indonesia berada ditangan mereka. Lembaga pendidikan saat ini tidak hanya membekali anak didiknya dengan pengetahuan dan hard skill, tetapi juga harus mulai melakukan pengembangan soft skill untuk menghadapi era revolusi industri 4.0 yang sangan bersaingan ketat.
Revolusi industri kini menjadi menjadi perbincangan banyak pihak. Pemerintah, industri, dan perusahaan mengerahkan segala persiapan untuk menghadapinya. Revolusi Industri 4.0 adalah bagaimana teknologi seperti kecerdasan buatan, kendaraan otonom, dan internet saling memengaruhi kehidupan manusia.
Era revolusi industri memberi dampak yang cukup luas dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk tuntutan mutu dalam penyelenggaraan pendidikan untuk memenuhi tuntutan itu. Perbaikan dan pengembangan sistem penyelenggaraan pendidikan disetiap lembaga secara berkesinambungan perlu dilakukan sejalan dengan dinamika perkembangan revolusi industri 4.0.
Kualitas pendidikan sebagai tolok ukur kualitas sumber daya manusia di Indonesia. Kualitas sumber daya manusia di Indonesia dilansir masih dibawah rata-rata. World Economic Forum (WEF) melansir laporan global Human Capital Report 2017 dengan mengkaji kualitas-kualitas sumber daya manusia di 130 negara melalui 4 indikator. Salah satu indicator yang menentikan adalah Deployment. Berdasarkan laporan World Economic Forum (WEF)  Indonesia berada pada peringkat 82 dunia dengan skor 61,6. World Economic Forum (WEF)  menilai berdasarkan pada nilai-nilai penyerapan sumber daya manusia dan tingkat pengangguaran di berbagai jenjang umur cukup tinggi. Hal ini cukup menjadi permasalahan besar bagi Indonesia. Mengingat Indonesia mengalami kondisi bonus demografi saat ini dan pada tahun 2030 mendatang. Pada tahun tersebut usia produktif seseorang mendominasi populasi indonsia tanpa diimbangi dengan peluang kerja dan usaha yang belum terarah.
Sumber daya manusia merupakan faktor penting pembangunan era revolusi industri 4.0. World Economic Forum (WEF)  dalam kesimpulannya menemukan bahwa damlam indeks ini rata-rata Negara di dunia hanya menggunakan 62 % potensi dari sumber daya manusianya dan 38 % potensi telah terabaikan. Tercatat dalam data World Economic Forum, bahwa hanya 25 negara saja yang telah memanfaatkan potensi sumber daya manusia hingga 70 %.
Kualitas sumber daya manusia diukur dari tingkat kemampuan soft skill dalam bersaing didunia global. Hal tersebut mendorong pendidikan sebagai salah satu dari program Sustainable Development Goals (SDG) untuk mengembangkan sumber daya manusia di berbagai sektor. Mengingat sumber daya manusia merupakan faktor krusial ditengah era revolusi industri 4.0,maka perlu adanya peningkatan kualitas sumber daya manusia terutama soft skill yang menunjang perubahan. Rendahnya kualitas pendidikan berpengaruh pada rendahnya kualitas sumber daya manusia dan generasi milenial. Salah satu faktor pendorong rendahnya kualitas pendidikan adalah lemahnya para pendidik dalam menggali potensi siswa. Para pendidik sering kali memaksa kehendaknya tanpa pernah memperhatikan kebutuhan, minat, dan bakat yang dimiliki oleh para siswa. Hal ini dibuktikan berdasarkan survei United Nation Educational Scientific and Cultural Oeganization (UNESCO) tahun 2017 yang memaparkan bahwa kualitas guru berada pada peringkat 14 dari 14 negara berkembang.
Peningkatan kualitas sumber daya manusia  harus dilakukan menggunakan konsep pendidikan dan pelatihan. Jenis pendidikan dan pelatihan yang dilakukan harus relevan dengan kebutuhan era revolusi industri 4.0. Selain dilaksanakan dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia, melalui pendidikan dan pelatihan juga dapat menambah pengetahuan dan keterampilan yang pada akhirnya akan mempengaruhi produktifitas kerja.
Dengan konsep pendidikan dan pelatihan soft skill yang dilakukan berkesinambungan akan menambah kecakapan dan kehandalan (Profesionalisme). Sehingga pada akhirnya nanti akan berpengaruh pada peningkatan produktifitas.  Dalam hal ini kualitas sumber daya manusia menjadi salah satu kunci penentu sebagai sarana antisipasi agar masa depan manufaktur Indonesia tidak terdepak dari persaingan.
Konsep pendidikan dan pelatihan menjadi langkah yang efektif untuk meningkatkan kemampuan soft skill generasi Indonesia saat ini, dan untuk menjawab semua tantangan era revolusi industri 4.0. Sebuah hasil penelitian dari Harvard University, Amerika Serikat yang mengagetkan dunia pendidikan di Indonesia. Dimana menurut penelitian tersebut, kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan keterampilan teknis (hard skill), tetapi oleh keterampilan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Bahkan penelitian ini mengungkapkan bahwa kesuksesanhanya ditentukan sekitar 20% dengan hard skill dan sisanya 80% dengan soft skill. Hal ini dapat diperkuat sebuah buku berjudul Lesson From The Top karangan Neff dan Citrin (1999)yang memuat sharing dan wawancara terhadap 50 orang tersukses di Amerika, mereka sepakat bahwa yang paling menetukan kesuksesan bukalah keterampilan teknis,melainkan kualitas diri yang termasuk dalam keterampilan lunak (soft skill) atau keterampilan membangun hubungan dengan orang lain (people skills).
Menurut hasil survei majalah Mingguan Tempo tentang keberhasilan seseorang mencapai puncak karirnya karena mereka memiliki karakter, yaitu : meu bekerja keras; kepercayaan diri tinggi; mempunyai visi kedepan; mampu bekerja dalam tim; memiliki kepercayaan yang matan; mampu berfikir analitis; medah beradaptasi; mampu bekerja dalam tekanan; cakap berbahasa asing; dan mampu mengorganisir pekerjaan;.
Jika realitas ini dijadikan sebagai tolok ukur pendidikan dan kualitas sumber daya manusia di Indonesia kondisi sebenarnya masih memprihatinka. Pendidikan Indonesia masih berkutat gaya hard skills. Ketidakmampuan dalam memberikan pendidikan soft skill mengakibatkan lulusan hanya pandai menghafal pelajaran dan sedikit memiliki keterampilan ketika sudah berada di lapangan kerja. Mereka akan menjadi mesin karena penguasaan keterampilan tetapi lemah dalam memimpin. Sedangkan era revolusi industri sedang menyuguhkan mesin pengganti manusia untuk meningkatkan produktifitas kerja diberbagai sektor pembangunan negara. Pertanyaannya adalah bagaimana nasib sumber daya manusia Indonesia dalam rentang usia produktif apabila semua produktifitas kerja digantikan oleh mesin?.
Hadirnya automasi dan kecerdasan buatan di industri tentu memberikan potensi besar untuk melipatgandakan produktifitas tenaga kerja. Berbagai perusahaan besar dunia bahkan telah menggunakan robot dan kecerdasan buatan sebagai pekerja dilini produksinya. Sseperti Amazon, Tesla, Uber, DHL, Adidas, dan Nestle. Di Indonesia, operasional pabrik susu Kicikarang telah menggunakan teknologi robot.
Dibalik manfaat dan percepatan automasi Industri banyak sekali tantangan dalam menghadapi revolusi industri 4.0. Padahal, Indonesia saat ini tengah menikmati periode bonus demografi berkat banyaknya populasi penduduk dalam rentang usia produktif. Booming ketersediaan tenaga kerja yang bersamaan dengan era revolusi industri akan menjadi ancaman nyata bagi Low Skill Workers atau profesi dengan jenis pekerjaan yang repetitif karena dapat dengan mudahnya tergantikan oleh robot.
Profesi yang akan bertahan di era automasi industri antara lain : Industri kreatif, teknologi informasi, professional, manager, pelayanan kesehatan, pendidikan, dan jasa konstruksi. Contoh beberapa soft skill yang diperlukan yaitu: kejujuran, tanggung jawab, berlaku adil, kemampuan bekerja sama, kemampuan beradaptasi, kemempuan berkomunikasi, toleransi yang tinggi, hormat terhadap sesama, kemampuan mengambil keputusan, dan kemampuan memecahkan masalah.
Proses pendidikan yang baik adalah dengan memberikan kesempatan pada siswa untuk kreatif harus dilakukan. Sebab pada dasarnya gaya berfikir siswa tidak dapat diarahkan. Pendidikan dimasa depan merupakan kebutuhan pokok bagi setiap generasi untuk meningkatkan skill dan kompetensinya agar mampu bersaing di era revolusi industri 4.0. Pendidikan dan pelatihan dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia tidak hanya dilakukan dengan Learn How To Know, tetapi juga Learn How To Be yang di wujudkan dengan konsep pendidikan soft skill didalamnya. Pada umumnya industri menekankan kebutuhan sumber daya manusia yang bisa terus belajar, cepat beradaptsi, dan melek teknologi.
Dengan adanya revolusi industri 4.0 tersebut maka  sebagai masyarakat dan sebagai generasi emas bangsa harus mampu bersaing dengan kecerdasan buatan serta memiliki skill yang berkualitas melalui pendidikan dan pelatihan soft skill.
Revolusi industri 4.0 ini tengah berlangsung dikehidupan masyarakat dunia saat ini. Jutaan pekerjaan lama pun akan hilang serta jutaan pekerjaan baru pun akan muncul di era ini, maka dari itu generasi milenial harus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman yang sedang berlangsung, agar kita dapat berkembang sesuai dengan perubahan zaman. Kita harus optimis dalam menyambut era revolusi 4.0 dengan pendidikan dan pelatihan yang mengedepankan soft skill agar kita lebih mudah dalam mengembangkan potensi diri yang dimiliki, sehingga menjadi manusia yang berbudaya dan berkualitas.
       Wassalamu'alaikum wr.wb

Tidak ada komentar:

Posting Komentar